Ketika Anakku Bisa Mengalahkanku, Aku Menang*
Untungnya, sesuatu yang pernah dianggap sebagai kebenaran pada satu masa, bisa menjadi kekeliruan pada masa yang lain. Sejalan dengan Kurikulum Merdeka, kini sebagian besar sekolah tak lagi menerapkan sistem peringkat untuk menilai hasil pembelajaran siswa. Namun, tiga puluh tahun lalu, saat saya bersekolah, peringkat pernah menjadi segalanya Kelas Anak Pintar Sekolah putih biru saya membagi satu angkatan menjadi empat kelas berdasarkan nilai kelulusan SD. Gampangnya (dan tragisnya), kami dipilah ke dalam: kelas anak pintar, kelas anak lumayan pintar, kelas anak biasa saja, dan kelas anak yang dianggap tidak pintar. Katanya, pembagian ini dibuat agar pembelajaran berjalan lebih efektif. Murid yang dianggap lebih mampu bisa belajar lebih cepat, sementara yang lain mendapat ritme yang sesuai. Di atas kertas mungkin sistem ini saat itu terdengar masuk akal. Tetapi sesuatu dalam diri saya berontak. Teman-teman dengan nilai ujian tertinggi SD berada di kelas saya. Guru-guru serin...


.jpg)

