Fiksi

Majalah Katolik "Hidup", 18 Desember 2016


Grasindo, Maret 2016

Grasindo, Januari 2016

CERITA PENDEK

Kepada Pohon
Jawa Pos Radar Malang, Minggu, 30 Oktober 2016 

Hingga tutup usia, Ibu menepati janjinya untuk tak menjejakkan kaki ke mal besar itu. Mal tiga tingkat yang biasa kukunjungi dengan lima menit jalan kaki dari rumah. Ibu memilih naik kendaraan umum ke pertokoan di alun-alun untuk membeli pakaian, bahan kue, hingga bingkisan untuk kerabat, meski semua barang itu sebenarnya bisa dibeli dengan mudah di mal dekat rumah. Sedangkan aku bahkan berhenti membeli odol dan deterjen di toko kelontong seberang rumah hanya agar punya alasan belanja ke supermarket di lantai bawah mal itu.

Di masa awal mal itu dibangun, puluhan mahasiswa membawa spanduk  berdemonstrasi hampir tiap hari, menolak pembangunan mal yang lokasinya berdekatan dengan kampus mereka itu. Tetapi Malang di siang hari semakin panas, apalagi dengan jas almamater dan tangan mengepal ke udara. Suara garang “hidup rakyat” dari pengeras suara kian melirih. 

Mahasiswa-mahasiswa yang sama kemudian lulus dan menggantung jas almamater. Perlahan mereka mulai ikut menyesap kopi sambil bersantai di bawah semilir pendingin ruangan mal, atau membeli ponsel merek terbaru di lantai paling atas. Namun tidak demikian dengan Ibu.
“Pengembang mal itu menebang setidaknya lima belas pohon trembesi yang tadinya tumbuh di laha bangunan itu!” ujar Ibu berulang kali setiap kali aku bertanya mengapa ia tak mengambil langkah mudah dan normal seperti berbelanja ke mal terdekat. Aku tak tahu seerat itu hubungan Ibu dengan pohon.  Aku bahkan tak pernah berhasil mengenali dan mengingat nama-nama pohon.

Relasiku dengan pohon tidak begitu baik. Pohon terdekat dari tempatku tumbuh, yaitu di halaman rumah, adalah pohon cemara yang hampir selalu dipenuhi ulat bulu. Ulat-ulat itu terus datang kembali bahkan ketika pohon itu mungkin telah berulang kali mabuk oleh semprotan bahan kimia pembasmi ulat.

Satu-satunya tautan menenangkan yang kurasakan pada pohon adalah saat aku duduk terkantuk-kantuk di atas becak, melintasi jajaran pohon rimbun di Jalan Tanggamus, sepulang sekolah. Atau ketika aku berteduh di pohon paling besar di Jalan Pandan, saat terengah-engah lari mengelilingi sekolah di pelajaran olahraga. Pohon yang tentu saja tak kutahu jenisnya.  

Pohon itu kini masih ada di sana saat aku tak sengaja mengambil jalan memutar ke Jalan Panderman dan melintasi sekolah. Aku ingat mengendurkan gas motorku beberapa saat, memandanginya seakan ia kawan lama yang membawa kembali semua kenangan masa kecil.  
 “Trembesi itu bahkan sudah ada sejak ibu balita. Saat SD, ibu sering bersepeda melewati jajaran pohon itu. Bagaimana orang bisa dengan mudah mematikan sesuatu yang lebih tua dari republik ini? Atas nama apa? Pembangunan?” aku ingat kalimat Ibu suatu sore, lagi-lagi tentang trembesi. Kadang kupikir ia berlebihan. Tapi saat itu aku jadi membayangkan pepohonan yang barangkali ikut menyaksikan Soekarno melintas untuk meresmikan Monumen Tugu.

“Kau tahu? Pohon-pohon kenari ini sudah berusia lebih dari seratus tahun,” ucap Ibu sambil melihat keluar jendela, menatap rimbunnya pepohonan yang kami lewati. Mobil Kijang renta kami perlahan melintasi bangunan sekolah tua Cor Jesu. Ibu lebih sering menyebut bangunan itu Biara Ursulin.

Pohon-pohon itu pasti telah menjadi saksi banyak kematian dan kehidupan baru. Mereka berdiri di sana saat Nippon jadi tuan dan tuan tanah setempat jadi warga kelas dua. Jajaran trembesi itu pasti telah menaungi ratusan warga yang berdiri di tepi jalan, menanti pawai kemerdekaan tiap bulan delapan. Mereka menyaksikan bayi-bayi yang digendong ibu mereka dalam jarit batik kemudian menjadi manusia berseragam pegawai negeri, berjubah dokter, ataupun digelandang ke kantor polisi lalu berseragam narapidana.

***
Siapa sangka aku menikah karena pohon. Dahlia, teman kantor berambut cepak yang gemar menjodohkan orang itu memperlihatkan foto seorang pria  mengenakan syal kelabu berlatar pohon pinus raksasa. Foto pria kesekian yang ia sodorkan padaku. Tetapi foto yang satu itu membuatku tertegun. Entah siapa yang lebih kuperhatikan, pinus atau sosok si pria. Buatku foto itu lebih berupa foto pinus gagah dengan seorang pria yang kebetulan berdiri di depannya, seakan mereka adalah kawan lama.

“Itu pinus bristlecone di Utah, Nevada. Aku berfoto setelah selesai ujian tesis di kampus,” kata pria itu saat kami bertemu di sebuah kafe berdinding kuning. Kemudian ia berseloroh soal betapa buruknya penataan lalu lintas, dan nyaris segala hal di Indonesia dibanding Amerika. Aku tak begitu menyimak. Dalam benakku, yang penting adalah ia tahu nama pohon yang kuduga sudah berumur 1000 tahun itu. Belakangan aku baru tahu pohon jenis itu bisa berusia 4000 tahun. Jika seseorang atau sekelompok orang menebangnya, berarti ia telah menumbangkan sebuah kehidupan yang bisa jadi lebih purba dari peradaban yang mereka kenal.

Tahu-tahu ia sudah membelikanku sebuah rumah di pusat kota, tepat setelah undangan pernikahan berwarna merah emas itu disebar. Meski berlantai dua, tapi rumah itu nyaris tak punya halaman berumput di depan. Semua habis dibangun jadi tumpukan bata. Tentu itu bukan rumah impianku, meski Dahlia dan semua teman kantorku memujiku sebagai wanita beruntung. “Kau bahkan bisa berjalan kaki ke mal baru itu! Ya meski nggak mungkin Tonton membiarkanmu jalan kaki keluar rumah,” ujarnya girang menyebut nama suamiku, lalu terbahak.

Hanya pohon di belakang rumah yang tampak tak mengada-ada. Pohon jambu yang sudah meranggas itu biasa kupandang lekat-lekat dari jendela dapurku. Ia sebatang kara, dengan dua dahannya di kanan kiri yang simetris, seperti manusia sedang mengangkat tangannya ke langit, pasrah.

Dapur lengkap dengan oven dan kompor listrik di dapur itu semakin jarang kugunakan. Pria yang membelikanku rumah itu tak akan pulang sebelum satpam perumahan berkeliling memeriksa keamanan, pukul 00. Esok paginya, ia sudah mengeluarkan mobil pukul lima. Mau olahraga dulu di pusat kebugaran katanya.

“Kurasa dia tidak mencintaiku,” kataku pada Dahlia di kafetaria, saat istirahat kantor. Tentu aku sudah tak lagi bekerja kantoran. Tonton bilang aku tak lagi perlu mencari uang. Semua sudah ada. Tak perlu atau tak boleh, aku sudah tak tahu bedanya.

“Tidak mencintaimu? Yang benar saja. Kau punya segalanya. Ia tak pernah absen memberimu uang kan,” Dahlia mengunyah es batu sisa jusnya tanpa menatapku. Lalu ia membuka tas kulitnya, mengeluakan katalog kosmetika terbaru, dan membuatku membeli satu lagi pemulas pipi dan bedak yang tak kuperlukan seharga lima ratus ribu.

***
Di suatu sore saat hujan tak jadi turun, Tonton mendadak memasuki rumah dengan menenteng tas-tas kertas yang berisi penuh di kedua tangannya. Ia menyuruhku membukanya sambil mondar-mandir mengeluarkan pakaiannya sendiri dari lemari. Dari dalam tas-tas itu, tanganku perlahan menarik gamis-gamis panjang dan hijab. Aku tertegun.

“Kamu akan berperan penting menentukan kemenanganku,” lelaki itu tak menatapku saat menyebutku sebagai orang penting. Ia menurunkan koper dari atas almari, sambil berujar panjang lebar tentang kampanye sesuatu. Dari yang kutangkap, ia menyalonkan diri menjadi bupati di tanah kelahirannya. Sebelum aku benar-benar mencerna kalimat-kalimatnya, malam itu Alphard yang kami tumpangi, entah milik siapa, melaju cepat membelah gelap malam.

***
Foto Tonton menjadi berlipat ganda. Wajah di foto itu sumringah dengan beskap Jawa Timuran. Di sisinya, tampak seorang wanita berhijab dengan riasan wajah tebal, yang ternyata adalah calon wakil bupati.

Jantungku berdegup kencang saat mendengar ayunan palu seorang pria kurus memaksa ujung runcing paku menembus batang pohon. Dang dang dang! Aku menutup telinga dengan kedua tangan seperti anak kecil ketakutan mendengar suara petir.

Sambil berkacak pinggang, Tonton tersenyum lebar menyaksikan wajahnya akhirnya terpasang pada satu batang pohon. Masih ada setidaknya sepuluh pohon lagi yang akan dipaku di sepanjang jalan utama itu. Aku meminta izin pergi menjauh, ke warung kopi terdekat, seperti orang yang tidak tahan melihat hewan disembelih.

“Kenapa kau siksa pohon?” Alphard perlahan menjauh dari pohon-pohon dengan wajah Tonton. Sengaja kulirihkan suaraku agar tak terdengar pria kurus di kursi depan dan pengemudi.
“Pohon? Tersiksa? Apanya?” Tonton balik bertanya, tapi wajahnya sedang melongok ke dalam tas, mencari-cari sestuatu. Ia kemudian bicara pada si pria kurus tentang jadwalnya naik panggung esok. Katanya aku juga perlu ikut. Si pria kurus mengonfirmasi bahwa artis dangdut dan massa bayaran sudah siap.

***
“Jangan menikah dengan pria yang tak peduli pada pohon,” kata-kata Ibu kembali terdengar, seperti ayat kitab suci yang terlintas begitu saja saat gamang. Saat itu, menjelang ajalnya, aku ingin memintanya ikut merapal doa atau menghela napas panjang saja ketimbang membahas pohon. Tetapi akhirnya kubiarkan saja ia bicara sambil aku sekuat tenaga menahan air mata.

“Pohon itu, Nak, adalah makhluk hidup yang paling tabah menantang sinar matahari dan menyaring rintik hujan. Meski sering disalahkan, mereka memberi hidup tanpa syarat dan tanya. Siapapun yang dengan mudah mematikan pohon tanpa alasan, sesungguhnya mereka tak pernah benar-benar menghargai kehidupan.” Sejak Ibu meninggal, deru bunyi mesin pemotong pohon di telingaku terdengar seperti rudal Rusia menggempur Suriah.

Pintu ruang tamu berderik. Aku tersentak. Pukul satu dini hari. “Jadi kapan kira-kira lahan itu bebas dari semua pohon?” aku mengusap mata saat mendengar Tonton memasuki ruang TV sambil bicara dengan seseorang di telepon. Pohon apa? Di mana? Untuk apa? “Kalau sampai akhir bulan ini belum selesai, kita bisa kehilangan kesempatan dapat 2 M untuk dana kampanye.” Pria itu mengucapkan satu dua kalimat lagi yang lolos kudengar sebelum mengakhiri pembicaraan.

Punggungku menegak. Aku tak tahu proyek suamiku membuatnya perlu mematikan pepohonan. Jantungku berdegup kencang ketika ia memutar gagang pintu kamar. Aku berusaha tak bersuara saat ia mengganti pakaian dan gosok gigi, lalu berbaring di sisiku. Tanganku gemetar. Aku tidur bersama pembunuh.

***
Pernikahanku bermula dan berakhir karena pohon. Namun setidaknya Ibu benar. Setahun kemudian rumah pemberian Tonton yang jadi tempatku melamun tiga tahun disita. Sepekan sebelumnya, pria itu ditangkap atas kasus sengketa lahan. Aku singgah ke rumah itu untuk mengambil satu koper pakaian lama yang tersisa.

Aku menyelinap perlahan ke dapur, berharap dapat mengantongi kenangan, entah apa. Pohon jambu di belakang rumah itu masih ada di sana. Anehnya kedua dahannya sedikit lebih rimbun. Ia kini tampak seperti anak kecil yang mengangkat kedua tangan riang.


***

Femina, Desember 2015

Desember 2014

Good Housekeeping, Mei 2015



 Femina, Oktober 2013

Good Housekeeping, 2013