Perihal Jarak yang Memisahkan Diri antara Sebelum dan Sesudah

Saat saya kembali ikut race, 2025 lalu, seperti cenayang yang sedang menerawang, seorang kawan lama bertanya, kenapa lari lagi? Agaknya ia tahu bahwa saya hanya akan berlari (ikut race) jika sedang berada dalam masa pelik. Terakhir saya gencar lari pada tahun 2017-2018. Meskipun hanya pelari hura-hura, tapi selalu ada hal baru yang bisa saya maknai setiap kali kembali berlari. 


Semua Bisa Dilatih 

Depression hates a moving target, bunyi judul buku Nita Sweenly. Lari, atau olahraga apapun memang bukan/tidak bisa menggantikan terapi. Tapi bagi saya, aktivitas ini mengingatkan saya bahwa semua hal bisa dilatih. Setelah sekian lama berhenti, kita bisa terus memulai lagi dan lagi dari nol. Terengah-engah lagi, memadukan berjalan kaki dengan lari, berlari sangat lambat. Hingga pada percobaan kesekian, tahu-tahu kita bisa berlari tanpa henti sejauh 2 km, lalu tiga, kemudian 5 km tanpa henti, dan seterusnya. 


Dan, seperti otot jantung dan otot kaki yang bisa dilatih agar lebih kuat dan efisien berlari, pikiran kita juga bisa dilatih. Suara di kepala kita ini sudah terlalu sering terbiasa mencerca diri sendiri. Namun, saat berlari, pikiran kita tidak bisa tidak menghardik  suara-suara cercaan itu untuk diam. Sebaliknya, kita belajar kembali bersusah payah mendengarkan suara-suara lirih yang berseberangan. Memantik mereka agar lebih berisik atau sekadar berbisik: kamu bisa, sedikit lagi, tarik napas, sabar. 


Bayangkan terus-menerus berlatih menyemangati diri, hingga satu setengah jam dan 10 km terlampaui. Makin sering dilakukan, siapa tahu kita lebih sering mendengarkan suara-suara penyemangat ini saat kita menyongsong perkara-perkara sehari-hari lain. 


Belajar (untuk) Sendiri(an) 

Saat ikut race, kita memang bisa berlari bersama ribuan pelari lain. Tetapi terutama dalam lari jarak jauh, pada kilometer tertentu, lama kelamaan jarak antarpelari merenggang. Satu per satu peserta lain melewati kita dan kita harus belajar untuk terus mempercayai diri sendiri. Belajar untuk sendirian. 


Belajar untuk sendirian adalah sebuah sikap yang harus diambil jauh sebelum race, dalam hari-hari latihan yang panjang dan sunyi. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Saat tak ada yang memantau, tak ada yang mengingatkan, tak ada yang membersamai. Hanya kita dan target-target kecil yang harus kita capai seorang diri demi lebih kuat berlari dan setidaknya mengurangi risiko cidera.  


Persepsi tentang Jarak 

Sebelum lari, saya sulit menentukan jauh dekatnya jarak. Kemudian, saya bisa bilang lima kilometer itu relatif dekat karena saya biasa menempuh jarak itu untuk latihan harian. Lantas, sepuluh kilometer. Saya bisa terkantuk-kantuk dalam kendaraan roda empat yang menempuh 10 km, tapi saya  tahu jarak itu bisa saya tempuh dengan lari. Jadi, antara dekat dan tidak. 


Hingga kemudian tahun lalu saya menantang diri menempuh jarak half-marathon, 21 km. Jarak yang sebelumnya saya anggap mustahil untuk ditempuh. Dua kali lipat jarak standar yang saya lalui. 



Namun, setelah terlampaui, momen itu saya ingat dalam masa-masa sulit. Setiap kali ingin menyerah, baik pada jarak fisik maupun kesulitan-kesulitan tak kasatmata dalam hidup, saya mendapati diri saya berkata pada diri sendiri, kamu sudah melalui 21 km. Kesulitan yang ini juga pasti bisa kamu lampaui. Agak naif memang. Tapi cukup bekerja untuk saya. 


Aneurisma, Hujan, dan Segala yang Menahan 

Setiap jelang race, terutama jarak jauh, mau tidak mau kita harus menata ulang pola hidup kita. Saya tidak akan bisa lari jika kurang istirahat, kelelahan, banyak makan tidak sehat, atau sebaliknya, kurang makan. Dan bahkan setelah membenahi semua aspek itu, kita bisa saja masih mengalami situasi-situasi yang menghambat. 


Pertengahan 2025, saya nyaris batal mengikuti race half-marathon pertama saya. Saat itu saya sedang sering bekerja lapangan dan kelelahan, hingga hanya sanggup berlatih 5-10 km di pagi hari. Itu pun setiap kali selesai latihan pada pagi hari, siangnya saya selalu pusing. Sakit kepala sebelah yang berdengung. Ngerinya, saat memeriksakannya, dokter sempat menduga saya mengalami aneurisma. Situasi ini bisa menyebabkan pembuluh darah saya pecah sewaktu-waktu. 


Saat itu saya punya pilihan untuk berhenti total dari lari dan semua kegiatan fisik berintensitas tinggi, atau memeriksakan diri lebih lanjut untuk memastikannya. Teringat kata Robin Sharma, what you don’t face become your limit, saya memilih sikap kedua. Mengambil tes yang dianjurkan dokter: MRI dan MRA. Sungguh aneh rasanya menjalani kedua tes itu di usia ini. Tetapi saya lebih tidak tenang jika harus hidup serba berhati-hati karena dugaan aneurisma. Saya cukup senang berkegiatan di luar. 


Saya lega karena hasil tes MRI dan MRA mengonfirmasi saya tidak mengalami aneurisma. Dokter kemudian menyarankan saya menggunakan aplikasi Guardian Headache, jurnal untuk mencatat pola jika sakit kepala terjadi lagi. Lambat laun, sakit kepala itu hilang setelah diiringi gaya hidup (lebih) sehat. Kalau dipikir-pikir, jika tidak melawannya, saya hanya selangkah menuju “lumpuh” akibat ketakutan tak beralasan.


Kemudian, half-marathon kedua saya sebenarnya agak traumatis karena race-nya berlangsung malam hari, diawali hujan, dengan rute looping. Menjalani rute yang sama tiga kali pada malam hari, disertai gerimis, jelas membuat saya mempertanyakan pilihan saya. Haha. 



Tiap melintasi satu titik, ada seorang petugas yang sebenarnya  bermaksud baik. Setiap kali saya dan beberapa peserta lain (yang mungkin tampak lelah) melintas, ia mendekat dan bertanya dengan sungguh-sungguh, “Masih kuat? Jangan dipaksakan, ya!” Dan setiap kali pula saya bimbang antara ingin membalas tos atau menendangnya ☺


Seperti mengerjakan banyak hal dalam hidup (seperti menulis), saya kerap ingin berhenti saja, tapi juga ingin segera mencapai finis.  Setiap hari, saya, kita, hanya berusaha untuk terus berada di tengah, di antara dua kutub ekstrem ini. 


Kini, setelah dua half-marathon tahun lalu (beserta badai yang menjadi alasan saya berlari kembali), saya tidak lagi hanya mengukur jarak dalam satuan kilometer biasa. Saya mengukur jarak dari segenap daya upaya yang telah saya kerahkan untuk menempuhnya. Jarak itu telah memisahkan antara diri saya sebelum dan sesudah melampauinya. 


Dan setelah badai berlalu, kau tak akan ingat bagaimana kau melewatinya dan bagaimana kau berhasil bertahan... Ketika kau keluar dari badai, kau bukan lagi orang yang sama seperti saat kau masuk. Itulah inti dari badai ini.

(Kafka on the Shore, Haruki Murakami)


Comments

Post a Comment