Perjalanan ke Dalam (Seri 7 #dirumahaja)

Sesungguhnya akhir-akhir ini saya sedang enggan untuk bicara “ke luar,” mengunggah dan membuka media sosial, termasuk menulis blog ini. Selain karena (syukurlah) sedang ada pekerjaan tambahan menulis artikel dan rutinitas di dapur, saya sedang lebih senang melakukan perjalanan ke dalam diri. 


Saya kerap membayangkan andai saya tidak menjadi penulis yang perlu mempromosikan buku, hampir pasti saya sudah tidak akan menggunakan media sosial, atau tidak membukanya selama mungkin. Sungguh saya iri melihat teman yang sudah berhasil menghilang berminggu-minggu dari media sosial karena berkata terlalu sibuk di dunia nyata. Sebagai ibu bekerja, saya sadar betul soal itu. 

Kadang kita sudah tidak tahu dan tidak peduli lagi niat kita mengunggah segala sesuatu, mulai dari sekadar berbagi info atau merasa “lebih tahu.” Sekadar senang dan rasa syukur masih bisa makan dan berkumpul bersama keluarga, maka mengunggah foto keseharian pribadi atau pamer yang kadang membuat orang merasa perlu membandingkan hidup mereka. 

Yang kedua ini memang bukan tanggung jawab kita. Tapi setidaknya, barangkali, kita perlu berempati, terutama di masa ini. 

Hal yang pasti, seperti kata Hindia, mengais validasi itu melelahkan. Kadang, eh bukan, sering, kita sudah lupa batas antara mengekspresikan diri dengan keinginan untuk membuat orang terkesan. Dan semua yang berpusat pada orang lain itu tak akan habis dikejar. 

Rasanya kesadaran ini semakin menjadi di masa pandemi. Saat kita benar-benar sadar tiap hari orang lain, mungkin tetangga kita, sedang berupaya sekuat tenaga untuk sekadar menggerakkan roda kehidupan. Baru kemarin seorang tetangga datang ke rumah, menjual sekotak kering kentang, setelah beberapa hari sebelumnya berkata hendak menjual rumahnya. 

Membuat orang lain terkesan dengan unggahan kita sungguh adalah sesuatu yang asing dan jauh. 

Sebelum "ke luar" mungkin ini saatnya lebih banyak melakukan perjalanan ke dalam diri.


Comments