Ketika Anakku Bisa Mengalahkanku, Aku Menang*

Untungnya, sesuatu yang pernah dianggap sebagai kebenaran pada satu masa, bisa menjadi kekeliruan pada masa yang lain. Sejalan dengan Kurikulum Merdeka, kini sebagian besar sekolah tak lagi menerapkan sistem peringkat untuk menilai hasil pembelajaran siswa. Namun, tiga puluh tahun lalu, saat saya bersekolah, peringkat pernah menjadi segalanya


Kelas Anak Pintar 

Sekolah putih biru saya membagi satu angkatan menjadi empat kelas berdasarkan nilai kelulusan SD. Gampangnya (dan tragisnya), kami dipilah ke dalam: kelas anak pintar, kelas anak lumayan pintar, kelas anak biasa saja, dan kelas anak yang dianggap tidak pintar. Katanya, pembagian ini dibuat agar pembelajaran berjalan lebih efektif. Murid yang dianggap lebih mampu bisa belajar lebih cepat, sementara yang lain mendapat ritme yang sesuai. Di atas kertas mungkin sistem ini saat itu terdengar masuk akal. Tetapi sesuatu dalam diri saya berontak. 


Teman-teman dengan nilai ujian tertinggi SD berada di kelas saya. Guru-guru sering berkata, seolah sedang memberi penghargaan, "Kalian adalah motor angkatan ini."  Bukannya senang, dengan cepat saya merasa tertekan. Apalagi pengkategorian kelas ini didasarkan pada capaian nilai pelajaran eksakta, bidang yang paling tidak saya kuasai dan minati. 


Di sisi lain, saya justru berpikir, lalu bagaimana rasanya berada dan dicap sebagai anak yang tidak pintar? Saya ingat, sesekali ketika berinteraksi lintas-kelas, ada saja teman yang melontarkan celetukan bercanda seperti, “Kelasku kan kelas anak bodoh, nggak kayak kelasmu,” atau “Anak paling pinter di kelasku itu yang paling bodoh di kelasmu.” Gurauan, katanya, kadang adalah ungkapan yang paling serius. 


Padahal, banyak anak yang dicap "tidak pintar" ini justru menjadi bintang di lapangan olahraga, panggung seni, atau kegiatan-kegiatan yang tak pernah masuk hitungan rapor.  Tega sekali sebuah sistem menyederhanakan manusia dalam angka, membenturkan dan memilah kami dalam kotak-kotak dan label yang tidak pernah kami sepakati. Label baik buruk yang bisa jadi harus kami bawa seumur hidup. 


Pada masa SMA, ganti saya yang menjadi salah satu penghuni siswa kelas IPS – yang saat itu dicap sebagai kelas buangan – di antara 7 kelas IPA. Saat itu pembicaraan perihal minat dan bakat sama sekali belum menjadi perhatian. Tidak peduli apapun jurusan kuliah yang akan dituju, saat itu logika yang mengakar adalah: masuk IPA saja agar lebih banyak pilihan jurusan kuliah. Padahal bisa jadi hanya orang yang belum tahu pasti ingin menuju ke mana yang merasa perlu mempertahankan sebanyak mungkin pilihan. 


Memutus Mata Rantai 

Saya teringat semua itu ketika menyadari Bima, putra saya, juga harus berupaya keras untuk sekadar memahami materi pelajaran eksakta. Kami sempat mendatangkan guru les Matematika dan Fisika ke rumah untuk mendampinginya. Harapannya, kalau dibimbing lebih intensif, mungkin semuanya akan lebih mudah. Tetapi lama kelamaan, upaya ini justru menjadi kontraproduktif.  Pelajaran-pelajaran itu justru makin jadi beban untuknya. 


Sementara itu, sejak kecil saya melihat kekuatannya justru berada di area lain: seni dan bahasa. Sejak kecil buku pelajarannya penuh bermacam gambar yang ia buat di kelas. Buku-buku sketsa menggambarnya juga dengan cepat penuh. Belakangan ia mulai menggambar di atas layar Wacom. Saya berpikir, bagaimana jika, alih-alih memperbaiki kekurangannya, kami memilih menguatkan keterampilan yang sejak awal memang menjadi kekuatannya? 


Saya mendaftarkannya kursus menggambar dan animasi 3D. Suatu kali, pada akhir kelas animasi 3D, ia dengan yakin berkata, “Aku maunya animasi 2D, Bun, bukan 3D.” Saat itu usianya 13 dan saya mengira ia salah memahami pilihannya. Bahwa mungkin ia belum mengerti yang ia butuhkan dan saya yang harus memutuskan untuknya. Saya hampir percaya bahwa orang dewasa tentu lebih tahu jalan yang terbaik untuk anaknya. 


Baru setelah mendaftarkannya ke SMK (20 tahun lalu SMK tentu bukanlah pilihan yang bergengsi), saya baru menyadari bahwa animasi 2D dan 3D adalah dua jurusan yang memang berbeda. Saya lega karena hari itu saya telah memilih untuk mempercayainya. 


Hal serupa terjadi pada bidang bahasa. Saya sempat putus asa karena sejak remaja ia tak mau lagi ikut lomba-lomba yang sebelumnya kerap ia menangi. Ia juga berhenti membaca buku-buku klasik dan memilih membaca komik. Saya membiarkannya karena ia juga membela diri, “Aku masih baca kok, Bun”. Paksaan untuk membaca jenis bacaan tertentu, saya khawatir, hanya akan membuatnya menganggap membaca sebagai kewajiban berat lain. Saya ingin membaca tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan untuknya. 


Jalan tengah itu ternyata tidak salah-salah amat. Jelang kelulusan SMP, saat ujian praktik bahasa Inggris, ia menulis naskah lakon yang ia adaptasi dari karya klasik Miguel de Cervantes, Don Quixote. Saya takjub. Saya sendiri belum pernah menulis naskah lakon, bahkan tidak berani mencoba ketika beberapa kesempatan datang. 



Namun, putra saya menulis dialog demi dialog di atas kertas dengan tulisan tangan, seakan-akan sudah sering melakukannya, kemudian memindahkannya ke ketikan di laptop. Ia kemudian mengarahkan teman-temannya memerankan lakon itu dengan percaya diri dan gembira. Itu sisi diri Bima yang sama sekali belum pernah saya lihat sebelumnya. Momen itu mengingatkan saya akan kakeknya yang dulu juga penulis lakon dan sutradara ludruk, sebuah teater rakyat Jawa Timur. 


Kekhawatiran saya bahwa ia akan berhenti membaca (dan menulis) ternyata tidak beralasan. Ia hanya memilih cara dan waktunya sendiri untuk tumbuh. Bahasa, baginya, bukan lagi sekadar mata pelajaran atau alat untuk memenangkan perlombaan.  Seperti menggambar, bahasa menjadi ruangnya untuk bersenang-senang dan menemukan diri  sendiri. 


Tiba-tiba saya teringat lirik Butterfly Kisses, Bob Carlisle: with all that I've done wrong, I must have done something right. Saya telah membuat banyak kesalahan dalam hidup. Tetapi mempercayai putra saya adalah salah satu keputusan paling berharga yang pernah saya buat. Kalaupun kelak ia berubah pikiran dan memilih jalan yang sama sekali berbeda, tak ada yang sia-sia. Setidaknya ia tahu bahwa sejak awal ia tidak pernah berjalan sendirian. 




Tahun ajaran baru ini, ia akan menjadi siswa animasi 2D di sebuah SMK dengan salah satu jurusan animasi terbaik. Untuk pertama kalinya, ia akan berjalan dalam petualangan yang ia pilih sendiri dan menjadi kekuatannya. Sejak kecil ia sudah menemukan jalannya dan karena itu tidak perlu mengumpulkan banyak opsi menuju jalan-jalan lain.


Dunia (akademis) kini sudah jauh lebih ramah untuk anak-anak yang dulu dikategorikan tidak "pintar". Saya bersyukur putra saya tidak harus mengalami kebingungan yang saya lalui dulu. Menyaksikannya berjumpa sesama anak yang bicara dalam “bahasa” yang sama dan berbagi mimpi yang serupa seperti memeluk diri saya sendiri yang berusia lima belas tahun. Setidaknya saat ini ia tak jadi anak yang hilang arah, tahu ada yang salah tapi tidak punya pilihan selain menjalani. Tak jadi anak yang merasa mimpinya tidak cukup sah untuk dijadikan tujuan, sehingga harus berputar jauh sebelum akhirnya menemukan jalan pulang. 


Seperti bunyi copy sebuah iklan lama yang saya sukai: ketika anakku bisa mengalahkanku, aku menang. 




(*Kalau tidak salah ini copy iklan Milo. Tapi tak bisa saya temukan jejaknya)


Comments