Saba Budaya Baduy: Hal-hal Indah yang Tak Tersimpan dalam Memori Ponsel

Walau tinggal di kabupaten yang sama dengan urang Kanekes, lama kami menunda berkunjung ke Baduy. Menunda karena letupan pertanyaan-pertanyaan di kepala: tidakkah mereka merasa terganggu dengan kehadiran begitu banyaknya tamu? Tidakkah kunjungan-kunjungan ini akan mengubah mereka ke arah yang tidak mereka inginkan?

Kemarin, kami berangkat juga ke sana.


ELF ke Baduy
Sengaja saya mendaftarkan sekeluarga ikut open trip. Datang sendirian tanpa tahu medan dan adat setempat sepertinya akan merepotkan diri sendiri dan orang Baduy yang akan kami kunjungi. Beberapa hari sebelumnya, para peserta trip digabungkan ke dalam sebuah grup WA. Ada 30-an orang. Dulu trip-trip yang saya ikuti tidak lebih dari 20 orang sehingga semua saling kenal. Trip kali ini saya hanya bisa mencoba mengenal sebagian dari mereka.

Liburan Imlek dan akan ditutupnya Baduy Dalam selama tiga bulan Kawalu membuat orang berbondong-bondong datang di akhir pekan ini. Melihat penuhnya ELF yang kami tumpangi, belum terhitung kelompok-kelompok trip lain, saya sudah membayangkan ramainya tujuan kami.

Tas Kami di Punggung Urang Kanekes

Bersama guide lokal di Baduy Luar

Sesampai di Terminal Ciboleger, sekelompok orang Baduy tampak duduk-duduk di depan warung tempat kami makan. Interaksi pertama kami dengan mereka berupa sebuah pertanyaan dari seorang warga Kanekes, “Tasnya ada yang mau dibawakan?” Saya berharap relasi kami tidak serta merta berupa penawaran jasa seperti ini. Tapi apa boleh buat. Namanya Kang Agus.

Seorang warga Kanekes lain  mendadak juga menghampiri kami bersama dua anak kembar lain, Jahra dan Jahri. Kedua anak tujuh tahun ini kemudian ternyata membawa ransel saya dan anak saya. Sesaat saya tak sampai hati. Tapi mungkin begitulah cara mereka hidup. Dua anak kecil itu membopong ransel-ransel kami dengan riang, dengan kaki-kaki lincah melewati naik turunnya jalan licin berbatu.

Ternyata tak hanya membawakan tas, Agus menjadi guide kami. Lebih dari guide sebenarnya. Lebih tepatnya teman dan penyelamat di medan-medan sulit. Empat jam perjalanan menuju Desa Cibeo, Baduy Dalam, dan esoknya, empat jam lagi keluar dari Baduy Dalam sungguh merupakan jalur trekking yang tidak mudah bagi kami yang tiap hari hanya duduk diam di depan laptop. Tanjakan dan turunan silih berganti. Batu-batu licin bercampur lumpur akibat guyuran hujan di hari kedua membuat kami sempat bergantian terjatuh.


Warga Kanekes
Bersama Agus dan si Kembar Jahra, Jahri

Situasi jalan yang biasa dilalui urang Kanekes sambil membawa kayu bakar, peralatan, barang dagangan, dan kadang menggendong anak.

Perjalanan Meditasi

Dalam perjalanan trekking naik turun lembah di sepanjang Ciboleger-Cibeo, sering saya tidak berani melihat terlalu jauh ke depan. Karena yang tampak seringnya adalah kelokan, tanjakan, atau turunan curam yang membuat panik dan lelah.

Saat mengira tidak ada lagi tanjakan, ternyata masih ada lagi dan lagi. Jalan turun pun ternyata tidak kalah sulit dan licin.

Jadi yang bisa dilakukan adalah cukup fokus pada satu dua langkah ke depan. One step at a time sampai empat jam berlalu.

Dan barangkali seperti itulah hidup 👻. Tahu tujuan dan gambaran besarnya tapi cukup fokus pada apa yang benar-benar ada di hadapan kita. Tidak perlu berharap jalan yang mudah, tapi berusaha selalu siap, apapun yang akan dijumpai di depan. Tahu juga saatnya berhenti untuk bernapas. Breath is the anchor.

The Mighty Urang Kanekes

Orang Kanekes, di mata saya, adalah manusia adidaya. Seperti  manusia kuat masa lampau yang masih tersisa. Jam empat pagi mereka sudah berangkat mandi di sungai sebelum pergi ke ladang. 

Pagi-pagi, kami sempat menyaksikan tiga perempuan dari tiga generasi sedang menumbuk padi di lesung: nenek, ibu, dan anak yang sepertinya masih 5-6 tahun. Jalan yang kami tempuh berjalan kaki selama 4-6 jam, mereka lalui hanya dalam waktu 1,5 jam.

Pakaian mereka hanya itu-itu saja, perpaduan putih, hitam, dan biru tua. Tanpa alas kaki. Memasuki rumah bambu mereka yang lapang dan kosong sungguh membuat tersadar, hidup memang seharusnya tidak perlu banyak hal. Orang-orang Kanekes adalah pelaku hidup minimalis yang sesungguhnya.

Saba Budaya, Bukan Wisata

Surreal moment. Momen yang rasanya antara nyata dan tidak. Memasuki wilayah Baduy Dalam, suara musik bambu mengalun di udara. Bambu-bambu yang dipasang menjulang dengan lubang-lubang pada ketinggian berbeda, tertiup angin dan mengeluarkan suara dengan aneka nada. Dari jauh terdengar seperti musik gereja zaman kuno. Musik alam yang mengiringi kami yang susah payah menapakkan kaki dan mengatur napas di tanjakan curam menuju Cibeo.

Kamera dan ponsel tidak diperkenankan digunakan di Baduy Dalam. Dalam ingatan dan hati, saya menyimpan baik-baik memori saat makan bersama tanpa penerangan lampu listrik di rumah Ayah Naldi, salah satu warga Cibeo tempat kami menginap. Juga saat membuka mata di pagi hari, mendapati alas tidur kami cuma tikar anyaman, di dalam rumah bambu. Ruangan yang juga menjadi satu dengan dapur tungku berbahan bakar kayu.

Seterusnya, seluruh waktu yang kami lalui di Baduy Dalam serasa antara nyata dan tidak. Waktu-waktu tanpa menyentuh ponsel dan membuang jauh-jauh hasrat untuk memotret ini itu. Peraturan yang luar biasa membantu untuk bisa benar-benar ada di sana. Mindful. Just being there and absorb. Sejalan dengan semangat saba budaya Baduy.

Orang Baduy memilih frasa saba budaya ketimbang wisata. Tamu yang datang adalah orang-orang yang berkunjung untuk berkenalan dan mengenal budaya orang Kanekes. Bukan wisata yang seakan menjadikan mereka sebagai tontonan. Konsep desa wisata ini yang sempat membuat kami tadinya juga sempat ragu untuk berkunjung.

Di Malang, kampung halaman saya, saya pernah mendengar keluhan warga Kampung Warna-Warni yang bahkan bingung untuk menjemur baju di depan rumah mereka sendiri. Bingung karena banyaknya orang yang melintas dan mendadak berfoto di depan rumah mereka.

Traveling do Changes Us

Hujan turun dalam perjalanan pulang. Kang Agus yang semula berjalan jauh di belakang kami, berlari menyusul agar kami bisa mengenakan jas hujan yang tersimpan dalam tas kami yang ia bawa. Membayangkan ia berlari membawa dua ransel dengan medan sesulit itu membuat saya terharu 😌.

Agus punya sebuah buku kecil tempat ia mencatat beberapa alamat dan nomor kontak tamu yang pernah ia dampingi. Terkadang, ia berjalan kaki ke Jakarta, BSD, Bekasi untuk mengunjungi tamunya dulu - yang kemudian ia sebut teman - dengan berjalan kaki (orang Baduy Dalam tidak menumpang kendaraan apapun). Tentu kami juga menuliskan alamat kami di sana. Berharap suatu saat Agus akan tiba di depan rumah kami 😃

Sepulang dari Baduy, pertanyaan pembuka di awal tulisan ini tentu saja tidak terjawab. Dan saya masih punya banyak pertanyaan lain yang belum atau mungkin tidak perlu jawaban. Kadang kita perlu berjuang untuk sekadar mengamati dan menerima.

Tapi setidaknya tentu saja mudah-mudahan ada yang bisa kami berikan dan kami bawa pulang. Bima, anak saya, juga membawa pulang sesuatu dari Baduy, sesuatu yang mungkin belum genap ia ceritakan, tapi tersimpan dalam hati dan ingatannya. Ia menempuh perjalanan ke Cibeo dengan bersungut-sungut, tapi berjalan pulang jauh di depan kami tanpa mengeluh, bersama kelompok lain, kadang sendiri, ditemani Ayah Juli. Sepertinya mandi di sungai bersama anak-anak Baduy Dalam adalah memori yang akan paling dia ingat 👦

NB: Oya, saya bergabung dalam open trip Jejak Baduy

Comments

  1. Kak riniii, terimakasih sudah membagikan pengalaman dalam bentuk tulisan, serasa ikut jalan" <3

    ReplyDelete
  2. Such a great story bu rini >.<

    ReplyDelete

Post a Comment